Yth. PH, PAC (5 orang) se-kab lmg Mohon hadir pada hari:
Rabu, 22 Februari 2017
Jam 19.00 wib
Tempat di rumah kami M Masyhur Laren
Agenda: Majelis dzikir Rijalul Ansor dan Tasyakuran
Ttd
Masyhur
Monggo seng berkenan hadir bisa langsung konfirmasi
Lamongan (18-02-17), Rutinan Rijalul Ansor
PAC. GP. Ansor Sarirejo Lamongan kali ini bertempat di desa Beru,
tepatnya di Pondok Pesantren Al Ghozaliyah. Setelah pembacaan Ratib Al
Haddad yang dipimpin oleh sahabat Saiful Anam yang kemudian dilanjutkan
dengan pembacaan sholawat bil qiyam oleh sahabat H. Sugiarto.
Setelah
pembacaan aurod dan sholawat, taujihat wal irsyadat oleh KH. Muhammad
Mashud, tuan rumah sekaligus Rais Syuriyah MWC NU Sarirejo. Dalam
tausiyahnya, pemangku pondok pesantren al Ghazaliyah ini menyampaikan beberapa pesan penting. "Ratib Al Haddad ini bukan sembarang wirid, ini
wirid yang luar biasa. Ketika saya sowan ke Sayyid Abbas, saudara dari
Muhammad bin Alawi Al Maliki. Salah satu ulama kenamaan Mekah, yang
ketika telah wafat. Sayyid Abbas dihadapan para kyai-kyai sambil
mengijazahkan Ratib Al Haddad menyatakan bahwa sirr atau rahasia ratib
ini adalah, adanya tanaffus (pengambilan nafas) yang cuma sekali dalam
bacaan Laa ilaha illaa Allahu laa ilaha illaa Allah. Bacaan dua tahlil
yang disambung itu."
"Tugas
kita, sebagai jam'iyyah dan pemuda Ansor agar taat pada ulama. Karena
pada zaman yang NU sudah dipepet oleh ekstrem kanan dan kiri ini, kita
harus bersatu dan satu komando. Jangan jalan sendiri-sendiri," lanjut
beliau.
Selain itu,
beliau juga menceritakan bagaimana ketika jendral Mallaby dibunuh oleh
santri kyai Hasyim Asy'ari. Maka, Inggris ketika itu mengancam akan
meluluh lantakkan pulau Jawa, maka Habib Ali Al Haddad meminta
pesantren-pesantren untuk membaca Ratib Al Haddad, dan kenyataannya
memang akhirnya Inggris batal mengebom karena satu dua hal.
Acara
Majelis Rijalul Ansor kemudian ditutup dengan doa dan dilanjutkan
dengan acara Rapat Rnggota PimpinanRranting GP. Ansor Desa Beru. [Asrori].
Gus Mus yang mendapat bingkisan umpatan dari seorang anak muda
lewat cuitan twitter adalah momentum untuk mempertanyakan: apa yang
hilang dari ruh dakwah kita?. Apa yang menyebabkan hilangnya adab pada
orang tua, guru dan dalam skala lebih luas: sesama manusia, seperti yang
makin sering kita saksikan akhir-akhir ini?
Bus damri melaju dari Pelabuhan Bakauheni ke Stasiun Gambir. Dari
dalam bus, saya mengamati laju truk-truk raksasa, bus, dan mobil yang
saling terburu jarak. Di ruas kanan dan kiri jalan tol sebelum memasuki
kota Jakarta yang padat, pada area persawahan yang menghampar, nampak
para petani sedang menggarap tanah, anak-anak kecil yang bermain layang,
juga beberapa kaum lelaki memancing. Di antara ruas tol yang angkuh
bersama kendaraan raksasa yang beradu cepat dan area persawahan yang
tenang itu, ada bahu jalan yang diduduki oleh dua orang laki-laki
pedagang asongan yang menjual kacang-kacangan, asinan buah, dan permen.
Kubah masjid yang tinggi menggaungkan adzan ashar, menyelinap di riuh
jalan.
Saya melanjutkan perjalanan ke Rawamangun. Di atas bajaj yang
menembus macet Jakarta pukul lima sore, si sopir bajaj bercerita tentang
jumlah setoran bajaj sehari sejumlah seratus sepuluh ribu rupiah. Ia
memutuskan berhenti jadi sopir taksi sebab tak sanggup dengan jumlah
pengeluaran harian yang tinggi, yakni tigaratus limapuluh ribu rupiah
untuk setoran dan dua ratus lima puluh ribu rupiah untuk modal bensin.
Ia pun bercerita tentang nasib kaum petani di kampung yang makin sulit
juga tekanan hidup buruh di Jakarta yang makin berat.
Kehidupan ternyata masih berjalan dengan rincinya. Peristiwa, tokoh
dan permasalahan yang melingkupinya begitu tak terhingga. Pada tiap
titik dan belokan yang menyertai “sunnatullah” itu, bukankah di sana
harusnya kita melihat agama?
Di masa kanak-kanak, ingatan tentang penceramah agama adalah tentang
syair-syair sederhana penuh makna. Salah satunya adalah bait seperti
ini: Repote dadi wong tani/ Sholate kadang lali/ Opo meneh yen wayahe tandur/ Sholate diundur-undur (Repotnya
jadi petani/ Sholat kadang terlupa/ Apa lagi jika musim panen tiba/
Sholat ditunda-tunda). Atau, terdapat juga lagu dengan lirik begini:
Eman-eman banget wong sugih ora sembahyang/ Nabi Sulaiman sugih wis
nglakoni sembahyang/ Eman-eman banget wong mlarat ora sembahyang/ Nabi
Ayub mlarat yo nglakoni sembahyang (Sungguh sayang jika orang kaya
tidak sembahyang/ Nabi Sulaiman kaya pun sembahyang/ Sungguh sayang jika
orang miskin tidak sembahyang/ Nabi Ayub miskin pun sembahyang).
Sekira masa dua dekade lalu, pesan agama menyentuh realitas harian
masyarakat yang dalam konteks lagu tersebut ditujukan bagi masyarakat
petani, merupakan bahasan inti mimbar-mimbar pengajian. Sebuah maklumat
sederhana namun penting, dan yang paling utama: mudah dipahami. Namun,
akses informasi yang makin mudah membuat para penceramah agama kini
lebih sering terbawa arus untuk terlibat dalam desas-desus politik dan
membawanya masuk ke dalam khotbah di masjid. Tak ada lagi syair tentang
petani, pedagang pasar, sopir, tukang bangunan. Tak ada lagi nasehat
tentang posisi si kaya dan si miskin yang sesungguhnya setara, sebab
hanya “sembahyang” sebagai penanda ketakwaan masing-masing hambalah
tolok ukurnya.
Ulama, yang secara sederhana diartikan sebagai orang yang berilmu,
harusnya memiliki cakupan yang luas. Kita mengenal Al Kindi, Al Farabi,
Ibnu Sina, Al Razi, serta nama-nama filsuf muslim lainnya sebagai sosok
yang beragam kiprah dan pemikiran. Artinya, dunia ini akan tetap
memproduksi dokter, guru, pengusaha, juga teknisi. Ia juga akan
memproduksi pedagang kecil, petani, buruh, bahkan pengemis.
Agama datang sebagai nilai yang menawarkan instrumen bagi
keseimbangan, misalnya bagaimana menjadi dokter yang pemurah, bagaimana
menjadi guru yang amanah, serta bagaimana menjadi pengusaha yang tidak
serakah. Di sisi lain, agama membantu petani agar bersyukur, serta
membantu buruh untuk mengerti haknya yang sering terdzalimi oleh ritme
kerja industri dan pembangunan.
Di mimbar-mimbar yang mereproduksi agama secara instan, ia
seolah-olah menjadi alat untuk membangun sebuah kerajaan utopis yang
mustahil bagi kehidupan manusia. Ruh wujud ketauhidan disalahpahami
sebagai “satu” yang kembali pada kejumudan empty shell. Semesta
itu berbentuk dunia Islam dalam sempitnya pemikiran ideologi-ideologi
tertentu yang menolak realitas kemanusiaan. Maka, muncul generasi baru
yang suka marah, mengumpat dan menyerang umat lainnya sebab gagal
mewujudkan cita-cita hidup yang seragam itu.
Generasi anti-realitas itu jumlahnya terus berlipat ganda dan semakin
nyata. Banyak dari mereka bahkan sudah tidak lebih percaya dan tidak
menaruh adab pada orang tuanya sendiri. Mereka memasrahkan akal sehatnya
pada guru yang jauh dari kapasitas murabbi ruuh, namun di laboratorium
kampus dan di hadapan kapital perusahaan, mereka tak mampu menghindar
dari diskursus rasionalisme dan materialisme yang menjadi realitas
mereka dalam mencari rejeki.
Demi ideologisasi keseragaman yang mustahil, mereka rela meninggalkan
orang tua, dan pelan-pelan juga membuat batas pada saudara, sanak
keluarga, serta teman-teman dekatnya sendiri. Padahal, takdzim
pada orang-orang terdekat itulah mengalir doa bagi ilmu yang bermanfaat
dan hidup yang berkah. Mereka menggunakan hadist seruan jihad
(perlawanan) untuk mendukung keputusannya, sedangkan tugas utama manusia
di muka bumi adalah sebagai khalifah fil ardh, atau penjaga
yang baik bagi bumi seisinya. Gelombang pendakwah kalah yang tidak siap
pada berbagai kondisi iman dan ragam manusia tidak akan mencipta
harmoni, melainkan chaos satu ke chaos lainnya.
Gus Mus, seperti pula Almarhum Gus Dur, memang sosok guru yang
cenderung unik. Keunikan itu dapat kita saksikan lewat hal-hal yang
paling dekat dengan beliau sendiri. Sebagai pribadi yang “nyeni” dan
pandai bergaul dengan semua golongan, mereka justru kerap dianggap aneh
dan diragukan keulamaannya. Gus Mus bertopi ala penyair Pablo Neruda,
membuat sajak dan melukis. Anak serta menantu beliau pun merdeka untuk
berpenampilan modern, tidak seperti anak-anak kiai pada umumnya, dengan
bidang keilmuan dan profesi yang bermacam-macam pula.
Gus Mus mempersonakan sisi manusiawi yang sesungguhnya merupakan
sesuatu yang ia teladankan tanpa mesti berteori, meskipun orang-orang
yang kerap menyalahpahami beliau kerap melupakan bahwa beliau pun
mengajar kitab setiap hari di pesantren sejak subuh hingga sore hari,
juga menjadi pemimpin dan pendengar keluh dan peluh masyarakat yang
datang tiap hari. Hampir tak ada waktu untuk dirinya sendiri.
LAMONGAN-Anggota Banser bersama Ansor Pimpinan Cabang Kabupaten Lamongan,
melaporkan seorang pengguna akun media sosial Facebook ke polisi.
Penyebabnya, pemilik akun facebook itu memposting kata-kata yang
dianggap menghina NU dan Anshor, yang dianggap dapat dibeli untuk
menjaga keamanan.
Gerakan Pemuda Ansor
dan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Pimpinan Cabang Kabupaten Lamongan,
melaporkan pemilik akun media sosial Facebook, atas nama Khoirul Huda
ke Polres Lamongan.
Khoirul Huda yang
diketahui berasal dari Desa Kalen, Kecamatan Kedungpring Lamongan itu,
dilaporkan karena komentar yang ditulis di sebuah grup Facebook,
dianggap telah menyudutkan dan dinilai melecehkan Nahdlatul Ulama dan GP
Ansor.
Dalam laporannya ini, mereka ditemui
langsung Kompol Arief Mukti, Wakapolres Lamongan. Sejumlah perwakilan GP
Ansor dan Banser, melampirkan pula barang bukti berupa foto hasil
screen shot komentar Khoirul Huda di sebuah grup Facebook.
Pemilik
akun Facebook Khoirul Huda memposting kata-kata yang dianggap menghina
NU dan Anshor, yakni NU dianggap dapat dibeli untuk menjaga keamanan. C
Contohnya, Ansor bisa dibeli untuk menjaga perayaan Natal di gereja.
Sebelumnya,
NU dan Anshor sudah tiga kali dihina oleh tiga orang warga Lamongan
melalui media sosial. Namun kasus itu dapat diselesaikan dengan
permintaan maaf.
Untuk penghinaan kepada NU dan Ashor yang keempat kalinya ini, penyelesaiannya melalui jalur hukum.
Muhamad
Masyhur, Ketua GP Ansor Pimpinan Cabang Lamongan, berharap, pihak
kepolisian segera memproses pemilik akun Facebook tersebut sesuai hukum
yang berlaku.
Sementara itu, Polres Lamongan
menindaklanjuti laporan dugaan penghinaan melalui media sosial dengan
melakukan penyelidikan, termasuk menggumpulkan barang bukti.
Di sisi lain, Polres Lamongan meminta semua pihak tenang dan tidak mudah terprovokasi yang bisa memperkeruh suasana.(end)
Pemberitahuan dan Undangan
Kepada Yth. Segenap sahabat PAC GP Ansor Sarirejo, PR GP Ansor Sarirejo
Assalamu'alaikum, Wr. Wb.
Bahwasanya kegiatan Majlis Dzikir dan Sholawar Rijalul Ansor pada bulan ini akan dilaksanakan pada :
Hari/ Tanggal : Sabtu, 18 Februari 2017
Pukul : 18.30
Tempat : Pondok Pesantren Al Ghazaliyah Beru.
Demikian undangan ini kami sampaikan, atas kerjasamanya kakmi ucapkan banyak terima kasih.
Wassalamu'alaikum, Wr. Wb.